Logo
DAFTAR ARTIKEL
🤐

Seni Mengabaikan Hinaan: Senyum Sang Rasul

Akhlak • 9 April 2026

"Bukanlah orang yang kuat itu yang jago bergulat, melainkan orang yang mampu mengendalikan dirinya saat marah. (HR. Bukhari & Muslim)"

Ketika kita dihina, difitnah, atau direndahkan oleh orang lain, ego kita secara otomatis akan mendidih dan menuntut pembalasan. Kita merasa harga diri kita jatuh jika diam saja.

Ketika Abu Bakar Dicaci Maki

Suatu hari, Rasulullah SAW sedang duduk bersama Abu Bakar r.a. Tiba-tiba datang seseorang yang langsung mencaci maki Abu Bakar dengan kata-kata kasar. Abu Bakar diam saja dan Rasulullah SAW memandangnya sambil tersenyum.

Orang itu terus mengumpat hingga akhirnya kesabaran Abu Bakar habis. Ia membalas umpatan tersebut. Seketika itu pula, Rasulullah SAW berhenti tersenyum dan pergi meninggalkan tempat itu.

Abu Bakar mengejar dan bertanya heran, "Ya Rasulullah, saat ia mencaciku engkau tersenyum, tapi saat aku membalasnya engkau justru pergi?"

Nabi menjawab: "Saat engkau diam, ada malaikat yang membelamu dan membalas caciannya. Namun saat engkau membalasnya, malaikat itu pergi dan setan datang. Dan aku tidak mau duduk di tempat yang ada setannya." (HR. Abu Dawud).

Membalas hinaan tidak membuatmu lebih terhormat, ia hanya merendahkan levelmu menjadi sama dengan si penghina. Biarkan malaikat yang membelamu dalam diammu.

Wonten Klentu Seratan?

Menawi wonten kesalahan harokat utawi terjemahan, mangga kersoa paring masukan.

👤

Admin Bilik Tafakur

Siap melayani masukan & sapaan

Memuat percakapan... ⏳