Menikah: Mengayuh Biduk dengan Nalar dan Sabar
Keluarga • 5 April 2026
Pernikahan dalam Islam disebut sebagai Mitsaqan Ghalizha (perjanjian yang sangat berat dan agung). Ia bukan sekadar penyatuan dua hati, melainkan penyatuan dua isi kepala yang memiliki latar belakang, ego, dan kekurangan masing-masing.
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir."
(QS. Ar-Rum: 21)
Perhatikan penutup dari ayat di atas: "bagi kaum yang berpikir". Mewujudkan keluarga yang Sakinah, Mawaddah, wa Rahmah ternyata tidak cukup hanya dengan modal perasaan (cinta) semata, tetapi sangat membutuhkan nalar atau akal sehat (kognitif) untuk mengelola konflik.
Terkadang, perselisihan muncul dari hal sepele. Di sinilah kedewasaan iman diuji. Allah SWT berfirman tentang bagaimana kita harus memperlakukan pasangan, bahkan ketika kita sedang merasa kesal kepadanya:
وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۚ فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا
"Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak."
(QS. An-Nisa: 19)
Teladan Kanjeng Nabi dalam Rumah Tangga
Dalam sebuah riwayat, Sayyidah Aisyah r.a. pernah marah hingga tanpa sengaja memecahkan piring berisi makanan di depan para tamu. Apa respons Rasulullah SAW? Beliau tidak membentak atau memaki istrinya di depan umum. Beliau justru berjongkok, memungut pecahan piring dan makanan tersebut sambil tersenyum dan berkata kepada para tamunya, "Ibu kalian sedang cemburu." (HR. Bukhari).
- Terima Kekurangan: "Janganlah seorang mukmin membenci mukminah (istrinya). Jika ia membenci satu akhlaknya, ia pasti ridha dengan akhlaknya yang lain." (HR. Muslim).
- Redam Amarah: Jangan mengambil keputusan saat marah. Jeda sejenak, menyingkir, berwudhu, dan bicarakan setelah hati kembali dingin.
- Fokus Kelebihan: Ingatlah kebaikan-kebaikan kecil pasangan saat setan mulai membisikkan kekurangannya di matamu.