Logo
DAFTAR ARTIKEL
🍂

Seni Merelakan: Belajar Ketabahan dari Ummu Sulaim

Keluarga • 9 April 2026

"Milik Allah apa yang Dia ambil, dan milik-Nya pula apa yang Dia berikan. Semuanya memiliki ajal yang ditetapkan. (HR. Bukhari)"

Kehilangan adalah ujian terberat bagi Nalar Teras seorang mukmin. Baik itu kehilangan jabatan, harta, apalagi buah hati. Keikhlasan seringkali hanya mudah diucapkan di lisan, namun sangat berat diterapkan di dalam dada.

Malam Kelabu Abu Thalhah

Kisah nyata ini terjadi pada sahabat Nabi, Abu Thalhah dan istrinya, Ummu Sulaim. Saat Abu Thalhah sedang bekerja di luar, putra kesayangan mereka jatuh sakit lalu meninggal dunia. Apa yang dilakukan Ummu Sulaim?

Ia tidak menjerit atau meratap. Ia memandikan anaknya, menutupinya dengan kain, lalu bersiap menyambut suaminya pulang. Ia menyajikan makan malam dan berdandan cantik. Setelah suaminya tenang, Ummu Sulaim bertanya dengan logika yang sangat tajam:

"Wahai suamiku, jika ada tetangga meminjamkan barang kepada kita, lalu ia mengambilnya kembali, apakah kita berhak menahan barang tersebut?"

Abu Thalhah menjawab: "Tentu tidak."
Ummu Sulaim berkata: "Maka bersabarlah, Allah telah mengambil kembali titipan-Nya (anak kita)."

Kesedihan adalah fitrah, namun meratapi takdir adalah menolak status kita sebagai "penyewa" di dunia ini. Ingatlah, kita semua tidak memiliki apa-apa, kita hanya sedang dipinjami.

Wonten Klentu Seratan?

Menawi wonten kesalahan harokat utawi terjemahan, mangga kersoa paring masukan.

👤

Admin Bilik Tafakur

Siap melayani masukan & sapaan

Memuat percakapan... ⏳