Seni Merelakan: Menyadari Bahwa Semuanya Adalah Titipan
Renungan Batin • 18 April 2026
Dalam hidup ini, kita pasti akan menghadapi yang namanya kehilangan. Entah itu kehilangan harta, pekerjaan, peluang, kesehatan, atau bahkan orang-orang yang paling kita cintai. Rasa sakit yang muncul dari kehilangan adalah sesuatu yang sangat manusiawi.
Namun, penderitaan yang berkepanjangan seringkali terjadi karena kita salah menempatkan status kepemilikan. Kita merasa "memiliki" sepenuhnya hal-hal tersebut. Padahal, dunia dan seisinya ini tak lebih dari sekadar barang pinjaman. Sebuah titipan yang kapan saja bisa diambil kembali oleh Pemilik Sah-nya tanpa perlu meminta persetujuan kita.
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ * الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun (Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali)."
(QS. Al-Baqarah: 155-156)
Kalimat istirja' (Inna lillahi...) bukanlah sekadar ucapan belasungkawa saat ada yang meninggal dunia. Ia adalah deklarasi kemerdekaan jiwa seorang mukmin. Saat musibah datang, kita memprogram ulang pikiran kita: "Aku ini milik Allah, hartaku milik Allah, keluargaku milik Allah, dan besok pun aku akan pulang menemui-Nya."
Seni merelakan (ikhlas) bermula dari pengakuan akan ke-Maha Kuasaan Tuhan. Menangis boleh, bersedih itu wajar. Namun, menolak takdir dan meratap berkepanjangan hanya akan menyiksa diri sendiri tanpa bisa mengubah kenyataan. Ridhalah kepada ketetapan-Nya, maka Allah akan meridhulami hidupmu.