Seni Berikhtiar: Nalar Teras Ibunda Hajar di Bukit Shafa
Tafakur β’ 7 April 2026
Seringkali kita merasa frustrasi saat usaha keras kitaβbaik dalam membangun karir, mencari rezeki, atau merintis usahaβtidak segera membuahkan hasil. Kita merasa sudah melakukan segalanya, tapi pintu jalan keluar seolah masih tertutup rapat.
Pelajaran dari Padang Pasir Tandus
Mari kita renungkan kisah Siti Hajar saat ditinggalkan Nabi Ibrahim a.s. di lembah Bakkah (Makkah) yang tak berpenghuni. Saat bayi Ismail menangis kehausan, Hajar tidak diam meratapi nasib. Ia berikhtiar memeras tenaga, berlari bolak-balik antara Bukit Shafa dan Marwah sebanyak 7 kali mencari sumber air atau kafilah yang lewat.
Secara logika manusia (nalar), jika ia berlari di bukit, seharusnya air atau pertolongan ditemukan di bukit tersebut. Namun, apa yang terjadi? Air Zam-zam justru memancar dari bawah tumit kaki bayi Ismail, di tempat yang jauh dari titik Hajar memeras keringat.
- Fokus Pada Usaha, Bukan Hasil: Tugas kita hanyalah berusaha (berlari). Hasilnya adalah hak prerogatif Allah. Terkadang Allah tidak memberikan rezeki dari pintu tempat kita mengetuk keras-keras, tapi dari pintu lain yang sama sekali tidak kita sangka.
- Gugurnya Kewajiban: Ikhtiar adalah ibadah. Saat kita bekerja dengan jujur dan sungguh-sungguh untuk meluaskan manfaat bagi keluarga atau warga sekitar, nilai ibadahnya sudah tercatat, terlepas dari besar kecilnya hasil materi yang didapat.
Berusahalah sekuat tenaga, lalu lepaskan ekspektasi berlebihan pada hasilnya. Tawakkal adalah puncak dari ikhtiar yang paripurna.